Minggu, 27 November 2016

Biografi dan Studi Kritis pemikiran CC. Berg



STUDI KRITIS TENTANG KARYA CORNELIS CRISTIAN BERG (CC. BERG)
Diajukan untuk memenuhi tugas mandiri dalam mata kuliah Historiografi Umum
Dosen Pengampu:
Drs. Fajriudin, M. Ag
Wahyu Iryana, M. Ag











Oleh:
Riff’ah Yaumil Amalia           NIM. 1145010113







JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016

 

KATA PENGANTAR


Bismillahhirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahirabbilalamin. Segala puji bagi Allah SWT. yang telah menolong kami dalam menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya, penulis tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta yakni Nabi Muhammad SAW.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah Historiografi Umum semester V kelas V D tahun 2016. Disamping itu, tujuan  utama pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan khususnya bagi penulis dan umumnya bagi  pembaca dalam kaitannya mengenai ‘Studi Kritis Karya CC. Berg’. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih atas kontribusi berbagai pihak, yaitu:
1.      Drs. Fajriudin, M. Ag dan Wahyu Iryana, M. Ag selaku dosen dalam mata kuliah Historiografi Umum.
2.      Orang tua dan teman-teman kami yang telah memberi dorongan, baik secara moril maupun materil sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
3.      Dan semua pihak terkait yang mendukung penyelesaian makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari akan segala kekurangannya, untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat diperlukan demi perbaikan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan terutama bagi unsur-unsur yang berkepentingan.


Bandung, 01 Oktober 2016

   
     Penulis
    Riff’ah Yaumil Amalia





DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR.. i
DAFTAR ISI. ii
BAB I PENDAHULUAN.. 1
A.   Latar Belakang Masalah. 1
B.    Rumusan Masalah. 1
B.    Karya dan Studi Kritis tentang Pemikiran CC. Berg. 2
BAB III PENUTUP. 7



BAB I

PENDAHULUAN


Indonesia adalah salah satu negara terbesar dengan jumlah penduduk dan luas negaranya, namun tak hanya itu saja, Indonesia pun kaya akan sejarahnya. Sehingga banyak sarjana-sarjana yang meneliti tentang sejarah Indonesia, baik sarjan dalam negeri maupun luar negeri salah satunya ialah sarjana barat yang bernama Cornelis Cristian Berg atau lebih dikenal dengan CC. Berg.
CC. Berg senang meneliti tentang sejarah Indonesia sehingga salah satu bukunya ada yang berjudul tentang ‘Sejarah Jawa’ buku tersebut khusus membicarakan pengertian penulisan sejarah Jawa (Javaansche geschiedschrijving). C.C Berg mencoba untuk memberi tafsiran baru tentang sejarah Indonesia kuno dengan jalan mengalami alam pikiran zaman tersebut, namun disayangkan analisa yang dilakukan oleh CC. Berg mengalami beberapa kegagalan.
Adapun di makalah ini, akan menjelaskan perihal biografi serta studi kritis CC. Berg dan pandangan atau kritik CC. Berg terhadap karya Prapanca serta kritik para ahli terhadap pemikiran CC. Berg.

1.      Bagaimanakah biografi CC. Berg?
2.      Bagaimanakah studi kritis tentang pemikiran CC. Berg?

1.      Untuk mengetahui biografi CC. Berg.
2.      Untuk mengetahui studi kritis tentang pemikiran CC. Berg.



BAB II

PEMBAHASAN


CC. Berg memiliki nama asli yaitu Cornelis Christian Berg yang lahir pada 7 Februari 1934 di Bandung, Indonesia. CC. Berg mendapat pendidikan di Belanda, di mana Berg pergi ke sekolah hortikultura di Breda. Dari 1959-1966 Berg bekerja di beberapa perguruan tinggi dan 1960-1986 menduduki beberapa posisi di Universitas Utrecht. Kemudian setelah CC. Berg lulus dari universitasnya pada tahun 1962 dan 1964 dengan gelar masing-masing Ph.D. pada tahun 1973. Setahun sebelum ia menerbitkan karya pertamanya, tesis disebut Studi di Moraceae yang dicetak di majalah Flora Neotropica. Pada tanggal 11 November 1985, ia menjadi direktur Norwegia Arboretum dan hari yang sama menjadi profesor botani di University of Bergen. Pada 31 Juli, 2005 ia meninggalkannya dan pada tanggal 1 September 2005 ia menjadi profesor emeritus di Bergen Museum. Dari 18 Desember, 2001 ia juga bekerja di Universitas Leiden, di mana ia tinggal sampai kematiannya pada tahun 2012. Selama hidupnya ia diterbitkan 151 makalah pada spesies tanaman Moraceae.[1]

Ketika C.C Berg menulis karyanya yang berjudul ‘Sejarah Jawa’ buku tersebut khusus membicarakan pengertian penulisan sejarah Jawa (Javaansche geschiedschrijving).[2]
C.C Berg mencoba untuk memberi tafsiran baru tentang sejarah Indonesia kuno dengan jalan mengalami alam pikiran zaman tersebut. Analisa yang dilakukan oleh CC. Berg mengalami beberapa kegagalan antara lain ialah karena:
1.      Cara berpikirnya sangat inteletualistis.
2.      Kesalahan yang selanjutnya yang dibuat oleh C.C. Berg ialah alam pikirannya yang kolot yang selalu diliputi oleh prasangka, bahwa orang Indonesia, dalam hal ini Prapanca, orang yang bodoh dan tidak bisa berpegangan kepada kebenaran.
3.      Kesadaran yang meliputi alam pikiran Berg yaitu ketidakrelaan hatinya untuk melihat Republik Indonesia tumbuh sebagai negara kesatuan (sikap tidak menyukai persatuan Indonesia dibuktikan dengan pidato inaugurasinya yang berjudul” Indie’s Talenweelde and Indie Taalproblemen”, 1939M).
Adapun, selanjutnya ialah tentang kritikan CC. Berg terhadap Prapanca serta kritikan para ahli terhadap CC. Berg: Tuduhan yang dilemparkan kepada Prapanca oleh C.C.Berg dimulai pada tahun 1951M (setelah terbentuknya NKRI), ketika ia menulis karangannya yang berjudul ”De evolutie der Javaanse Geschiedschrijving” (pertumbuhan penulisan sejarah Jawa).[3] Ia mengatakan, bahwa Negarakertagama (buku karya Prapanca) pupuh 40-49 yang memuat syair silsilah raja-raja Singosari-Majapahit itu sebagian tidak benar dan dipalsukan oleh Prapanca, sehingga Rajasa atau Ken Arok, (raja pertama Singosari) dan Anusapati (raja kedua Singosari) itu tidak pernah ada. Jadi apabila nama kedua raja ini dimuat dalam silsilah seperti yang dimuat dalam kitab Negarakertagama itu adalah akibat dari kecurangan Prapanca untuk memasukkan nama raja tersebut. Menurut C.C. Berg usaha Prapanca untuk menambahkan nama dua orang raja yang menurutnya itu tidak pernah hidup sebagai tokoh sejarah, ialah sebagai akibat perkenalan Prapanca dengan seorang pendeta tua yang menjaga suatu biara di Darbaru, seperti yang disebutkan dalam kitab Negarakertagama Pupuh 35 Untuk memperkuat pendapatnya, sarjana ini menyusun suatu hipotesa baru, bahwa Prapanca di Darbaru itu berkenalan dengan suatu naskah yang menyebut adanya nama Rajasa dan Anusapati, sedangkan naskah ini isinya hampir sama dengan kitab Pararaton,[4] disebut dengan Proto Pararaton.
Kesimpulan yang diambil oleh C.C. Berg. Ialah 1. Bahwa raja pertama Singosari itu bukan Rajasa melainkan Wisnuwardhana 2. Nama Rajasa dan Anusapati dipalsukan dan disisipkan dalam silsilah Negarakertagama. Teori C.C. Berg ini telah mendapat sanggahan dari J.L. Moens dan F.D.K. Bosch. Sarjana yang disebut pertama itu berpendapat bahwa Rajasa dan Anusapati merupakan manusia sejarah (historiche personen), karena namanya juga disebutkan dalam suatu prasasti.[5] Sehingga C.C. Berg. Yang sangat ceroboh dalam meneliti prasasti sebagai sumber sejarah Indonesia kuno tersesat dan menyusun suatu teori yang telah salah pada dasarnya. F.D.K.Bosch juga mengangah pendapat C.C. Berg. Khusunya mengenai khayalannya tentang Proto Pararaton.[6] Yang tidak diterima dari F.D.K Bosch ialah cara kerja C.C. Berg yang menyusun suatu hipotesis adanya suatu kitab Proto Pararaton yang belum terbukti pernah ada. Berdasarkan atas suatu kitab Proto Pararaton yang masih merupakan tanda Tanya besar ini C.C. Berg mengajukan pendapat bahwa Prapanca melalui kitab ini telah menyisipkan nama Rajasa dan Anusapati dalam silsilah raja-raja Singosari-Majapahit. Setiap orang mengetahui bahwa jika nanti terbukti bahwa hipotesis C.C. Berg ini tidak benar, segala buah pikirannya dan fitnahannya terhadap Prapanca akan berantakan seperti rumah kartu.
C.C. Berg juga pernah menolak keberadaan Mpu Sindok (Sri Isyana Wikramadharmatungga) karena dianggap sebagai tokoh rekaan dari raja Airlangga. Walaupun Mpu Sindok banyak mengeluarkan berbagai prasasti (30 buah) atas namanya. Menurut C.C. Berg, prasasti yang dikeluarkan Mpu Sindok terlalu membosankan karena memiliki struktur (bentuk) yang sama. Prasasti yang dikeluarkan oleh Mpu Sindok kebanyakan berisi anugrah raja kepada rakyatnya berupa Sima Swatantra. C.C. Berg juga pernah berpendapat bahwa raja pertama Mataram adalah Sultan Agung (Panembahan Hanyakrakusuma) jadi menolak keberadaan Panembahan Senopati (Sutawijaya) dan Panembahan Hanyakrawati. Pendapat C.C. Berg itu disanggah oleh De Graaf yang menyatakan bahwa Panembahan Senopati dan Panembahan Hanyakrawati adalah tokoh sejarah karena dapat ditelusuri dari sumber Portugise dan Belanda. Kebanyakan pendapat Berg itu selalu menolak keberadaan tokoh pendiri dinasti/kerajaan.
Tuduhan kedua yang dilemparkan kepada pujangga Prapanca yang dikatakan tidak dapat mempunyai pengertian ilmu bumi (geografi) ialah mengenai uraian Prapanca tentang daerah-daerah di luar Jawa yang telah dipersatukan oleh Majapahit yang disebutkan dalam Pupuh 13-15 dalam kitab Negarakertagama. Dari Pupuh ini dapat diketahui bahwa sebagian besar dari daerah Indonesia yang sekarang ini masuk dalam wilayah Republik Indonesia dan beberapa daerah yang masuk wilayah Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Philipina itu dalam lingkupan wilayah Majapahit. Keterangan Prapanca ini ditentang oleh C.C. Berg yang mencoba untuk membuktikan bahwa kerajaan Majapahit yang menurut Negarakertagama itu meliputi wilayah yang luas diperkecil menjadi hanya Jawa, Madura dan Bali. Jelaslah, Majapahit menurut sarjana ini tidak pernah memiliki wilayah yang kurang lebih sama dengan wilayah Republik Indonesia pada waktu sekarang. Di dalam karangannya yang berjudul “De Geschiedenis van pril Majapahit” (Sejarah awal Majapahit)[7] yang kemudian akan dilanjutkan dalam karangannya yang lain yaitu “De Sadeng oorlog en de myth van Groot Majapahit” (perang Sadeng dan mitos Majapahit Raya). Sarjana ini membuktikan bahwa wilayah Majapahit yang meliputi seluruh Indonesia seperti yang telah disebutkan Prapanca dalam Negarakertagama ini tidak betul: dengan berpegangan pada sutau prasasti yang dikeluarkan atas perintah Kertarajasawardhana (Maharaja pertama Majapahit) yang menyebut dirinya berkuasa di daerah Nusantara yang terdiri dari 4 daerah (catur prakerti) yaitu Bangli (Bali), Malayu (Sumatra), Madura dan Tanjungpura (Kalimantan). C.C. Berg menafsirkan bahwa 4 daerah ini tidak berhubungan dengan pengrtian geografi, melainkan berhubungan dengan filsafat agama Budha.[8] Dengan berpegangan kepada ajaran filsaft agama Budha, bahwa seorang raja yang telah diberi kedudukan sebagai seorang dewa Budha wajib memiliki 4 prakerti (kesaktian). Empat daerah Nusantara tersebut menurut Berg hanya dianggap sebagi cita-cita saja dari Majapahitdan tidak pernah masuk wilayah Majapahit.
Dalam usahanya untuk mentorpedir adanya kekuasaan Majapahit Raya, C.C. Berg mulai main kayu dengan jalan mengatakan bahwa berita-berita mengenai daerah-daerah di Indonesia dan sekitarnya yang telah dipersatukan dengan Majapahit itu hanyalah isapan jemol Prapanca belaka, karena pujangga ini dikatakan tidak mengetahui tentang ilmu bumi (geografi) Indonesia. Tuduhan ini disangkal oleh H.J. de Graaf pada tahun 1956M, ketika mengajukan suatu prasaran dalam suatu kongres di Belanda yang berjudul “De historische betrouwbaarheld der Javaanse overlevering” (Tentang kebenaran dalam sejarah Jawa).[9]
Pendapat C.C. Berg mengenai ketidakmampuan Prapanca untuk membedakan nama yang benar dan nama yang tidak benar, pernah dilancarkan sebelumnya pada tahun 1953M, ketika ia menulis karangan mengenai sejarah Indonesia kuno yang berjudul “Herkomst, vorm en funtie der Middlejavaanse Rijksdelingstheorie”(Asal bentuk dan fungsi teori pembagian kerajaan Arilangga). Sekalipun karangan ini tidak membicarkan karangan Prapanca akan tetapi karena sarjana Berg menyinggung Negarakertagama sebagai sumber sejarah, ia mengatakan bahwa Prapanca tidak dapat menyaring mana yang sejarah dan mana yang mitos, sehingga pujangga Prapanca dianggap sebagai ahli sejarah yang tidak mampu.[10] Karangan tersebut pada dasarnya memperbincangkan tidak diterimanya keterangan Prapanca yang mengatakan bahwa kerajaan Airlangga dipecah menjadi dua yaitu Jenggala dan Kadiri, karena pembagian ini tidak tidak berdasarkan atas berita sejarah yang sungguh terjadi dan hanya merupakan mitos kuno tentang terbaginya Jawa Timur oleh Sungai Brantas menjadi dua bagian. Tentang pendapat ini saya tidak keberatan untuk menerima, akan tetapi untuk mengatakan bahwa Prapanca sebagai seorang penulis sejarah yang tidak ada harganya, pendapat yang demikian ini saya menentangnya, sebab dalam taraf kemajuan pengetahuan pada abad ke-14M kita tidak dapat mengharapkan dari Prapanca untuk bekerja menyamai seorang guru besar pada waktu sekarang (abad ke-20M) dalam pekerjaannya dalam membuat suatu penyelidikan ddengan dibantu oleh sekitar banyak asisten denganperpustakaan yang serba lengkap. Pujangga Prapanca hanay mempunyai alat-alat dan bahan penyelidikan yang serba terbatas.







BAB III

PENUTUP


A.  Kesimpulan
CC. Berg memiliki nama asli yaitu Cornelis Christian Berg yang lahir pada 7 Februari 1934 di Bandung, Indonesia. Berg pernah menjadi direktur Norwegia Arboretum dan hari yang sama menjadi profesor botani di University of Bergen. Berg pun pernah menjadi profesor emeritus di Bergen Museum. Dari 18 Desember, 2001 ia juga bekerja di Universitas Leiden, di mana ia tinggal sampai kematiannya pada tahun 2012. Selama hidupnya ia diterbitkan 151 makalah pada spesies tanaman Moraceae.
Ketika C.C Berg menulis karyanya yang berjudul ‘Sejarah Jawa’ buku tersebut khusus membicarakan pengertian penulisan sejarah Jawa (Javaansche geschiedschrijving). C.C Berg mencoba untuk memberi tafsiran baru tentang sejarah Indonesia kuno dengan jalan mengalami alam pikiran zaman tersebut. Analisa yang dilakukan oleh CC. Berg mengalami beberapa kegagalan.
CC. Berg pernah melakukan studi kritik terhadap karya Prapanca yang berjudul Negarakertagama. Namun berbeda CC. Berg yang melakukan kritik terhadap karya Prapanca. Para ahli banyak yang melakukan studi kritik terhadap pemikiran CC. Berg sendiri, diantaranya ialah J.L. Moens dan F.D.K. Bosch.

B.  Saran
Semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan terutama bagi unsur-unsur yang berkepentingan mengenai CC. Berg serta semoga kita dapat meneliti sejarah secara profesional sesuai dengan tahapan dalam metode untuk meneliti sejarah. aamiin.




DAFTAR PUSTAKA


Sumber Utama:
https://linstein.wordpress.com/tag/c-c-berg/ diakses pada hari Rabu tanggal 05 Oktober 2016 pada jam 20. 03 WIB.
Www.Wikipedia.com
Catatan Kaki:
"Cornelius (Kees) Christiaan Berg 1934-2012". Figweb. Retrieved August 2, 2013.
C.C.Berg, “Javaansche Geschiedschrijving,”dalam F.W.Stapel (red.), Geschiedenis van Nederlandcsh Indie (Amsterdam: Joost van den Vondel, 1938).Jilid 2.
C.C.Berg,”De evolutie der Javaanse Gesscheidschrijving.” Meeleddelingen der Koninklijk Nederlandse Akademie van Wetenschappen. Afd. Letterkunde.Nieuwe Reeks, Jilid 14, No. 2 (1951) hal.5 dan seterusnya.
J.Brandes, Pararaton (Ken Arok) of het boek der koningen van Tumapel en van Majapahit (Batavia:Albrect en Rusche, 1896)
J.L.Moens,Wisnuwardhana, vorst van Singosari en zijn Madjapahitse santanapratisantana,”TBG, Jilid 85 (1955).
F.D.K.Bosch,”C.C.Berg and Ancient Javaancse History,”BKI Jilid 112 (1956).
C.C.Berg, “De geschiedenis van prii Majapahit,” Indonesie, Th. 4 (1950-51).
C.C.Berg, “de Sadeng-oorlog en de mythe van Groot Majapahit,” Indonesie, Th. 5 (1951-52).
H.J. de Graaf,”De historische betrouwbaarheid der Javaanse geschiedshrrijjving,” BKI,Jilid 112 (1956).
C.C.Berg, Herkomst, vorm en funtie der Middlejavaanse Rijksdelingstheorie,”Verhandeling der Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen. Afd. Letterkunde, Nieuwe Reeks, Jilid 59, No.1 (1953).




[1] "Cornelius (Kees) Christiaan Berg 1934-2012". Figweb. Retrieved August 2, 2013.
[2] C.C.Berg, “Javaansche Geschiedschrijving,”dalam F.W.Stapel (red.), Geschiedenis van Nederlandcsh Indie (Amsterdam: Joost van den Vondel, 1938).Jilid 2 hal 11-148.

[3] C.C.Berg,”De evolutie der Javaanse Gesscheidschrijving.” Meeleddelingen der Koninklijk Nederlandse Akademie van Wetenschappen. Afd. Letterkunde.Nieuwe Reeks, Jilid 14, No. 2 (1951) hal.5 dan seterusnya.
[4] J.Brandes, Pararaton (Ken Arok) of het boek der koningen van Tumapel en van Majapahit (Batavia:Albrect en Rusche, 1896)
[5] J.L.Moens,Wisnuwardhana, vorst van Singosari en zijn Madjapahitse santanapratisantana,”TBG, Jilid 85 (1955), hal. 394-397.
[6] F.D.K.Bosch,”C.C.Berg and Ancient Javaancse History,”BKI Jilid 112 (1956), hal.1-24.
[7] C.C.Berg, “De geschiedenis van prii Majapahit,” Indonesie, Th. 4 (1950-51), hal 481-520; dan C.C.Berg, “de Sadeng-oorlog en de mythe van Groot Majapahit,” Indonesie, Th. 5 (1951-52), hal 385-422.
[8] Berg,”De gessvhiedenis van prii Majaphit,” hal.494.
[9] H.J. de Graaf,”De historische betrouwbaarheid der Javaanse geschiedshrrijjving,” BKI,Jilid 112 (1956), hal. 55-73.
[10] Berg,”Herkomst vorm en funtie…,” hal.19.