STUDI KRITIS TENTANG KARYA CORNELIS CRISTIAN BERG (CC.
BERG)
Diajukan untuk memenuhi tugas mandiri dalam mata kuliah Historiografi Umum
Dosen Pengampu:
Drs.
Fajriudin, M. Ag
Wahyu
Iryana, M. Ag
Oleh:
Riff’ah Yaumil Amalia NIM. 1145010113
FAKULTAS
ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUNAN
GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR
Bismillahhirrahmaanirrahiim.
Alhamdulillahirabbilalamin. Segala puji
bagi Allah SWT. yang telah menolong kami dalam menyelesaikan makalah ini dengan
penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya, penulis tidak akan sanggup
menyelesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada
baginda tercinta yakni Nabi Muhammad SAW.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi
tugas kelompok dalam mata kuliah Historiografi Umum semester V kelas V D tahun
2016. Disamping itu, tujuan utama
pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan khususnya bagi penulis dan
umumnya bagi pembaca dalam kaitannya
mengenai ‘Studi Kritis Karya CC. Berg’. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih
atas kontribusi berbagai pihak, yaitu:
1.
Drs.
Fajriudin, M. Ag dan Wahyu Iryana, M. Ag selaku dosen dalam mata kuliah Historiografi
Umum.
2.
Orang tua dan teman-teman kami yang telah
memberi dorongan, baik secara moril maupun materil sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini.
3.
Dan semua pihak terkait yang mendukung
penyelesaian makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari
akan segala kekurangannya, untuk itu kritik dan saran dari pembaca sangat
diperlukan demi perbaikan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi penulis dan terutama bagi unsur-unsur yang berkepentingan.
Bandung, 01
Oktober 2016
Penulis
Riff’ah Yaumil Amalia
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
B. Karya dan Studi Kritis tentang Pemikiran CC. Berg
BAB III PENUTUP
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia
adalah salah satu negara terbesar dengan jumlah penduduk dan luas negaranya,
namun tak hanya itu saja, Indonesia pun kaya akan sejarahnya. Sehingga banyak
sarjana-sarjana yang meneliti tentang sejarah Indonesia, baik sarjan dalam
negeri maupun luar negeri salah satunya ialah sarjana barat yang bernama
Cornelis Cristian Berg atau lebih dikenal dengan CC. Berg.
CC. Berg senang
meneliti tentang sejarah Indonesia sehingga salah satu bukunya ada yang
berjudul tentang ‘Sejarah Jawa’ buku tersebut khusus
membicarakan pengertian penulisan sejarah Jawa (Javaansche geschiedschrijving).
C.C Berg mencoba untuk memberi tafsiran baru tentang sejarah Indonesia kuno
dengan jalan mengalami alam pikiran zaman tersebut, namun disayangkan analisa yang
dilakukan oleh CC. Berg mengalami beberapa kegagalan.
Adapun di
makalah ini, akan menjelaskan perihal biografi serta studi kritis CC. Berg dan
pandangan atau kritik CC. Berg terhadap karya Prapanca serta kritik para ahli
terhadap pemikiran CC. Berg.
1.
Bagaimanakah
biografi CC. Berg?
2.
Bagaimanakah
studi kritis tentang pemikiran CC. Berg?
1.
Untuk
mengetahui biografi CC. Berg.
2.
Untuk
mengetahui studi kritis tentang pemikiran CC. Berg.
BAB II
PEMBAHASAN
CC. Berg
memiliki nama asli yaitu Cornelis Christian Berg yang lahir pada 7 Februari
1934 di Bandung, Indonesia. CC. Berg mendapat pendidikan di Belanda, di mana
Berg pergi ke sekolah hortikultura di Breda. Dari 1959-1966 Berg bekerja di
beberapa perguruan tinggi dan 1960-1986 menduduki beberapa posisi di
Universitas Utrecht. Kemudian setelah CC. Berg lulus dari universitasnya pada
tahun 1962 dan 1964 dengan gelar masing-masing Ph.D. pada tahun 1973. Setahun
sebelum ia menerbitkan karya pertamanya, tesis disebut Studi di Moraceae yang
dicetak di majalah Flora Neotropica. Pada tanggal 11 November 1985, ia menjadi
direktur Norwegia Arboretum dan hari yang sama menjadi profesor botani di
University of Bergen. Pada 31 Juli, 2005 ia meninggalkannya dan pada tanggal 1
September 2005 ia menjadi profesor emeritus di Bergen Museum. Dari 18 Desember,
2001 ia juga bekerja di Universitas Leiden, di mana ia tinggal sampai
kematiannya pada tahun 2012. Selama hidupnya ia diterbitkan 151 makalah pada
spesies tanaman Moraceae.[1]
Ketika C.C Berg menulis
karyanya yang berjudul ‘Sejarah Jawa’ buku tersebut khusus membicarakan
pengertian penulisan sejarah Jawa (Javaansche geschiedschrijving).[2]
C.C Berg mencoba untuk
memberi tafsiran baru tentang sejarah Indonesia kuno dengan jalan mengalami
alam pikiran zaman tersebut. Analisa yang dilakukan oleh CC. Berg mengalami
beberapa kegagalan antara lain ialah karena:
1. Cara berpikirnya sangat inteletualistis.
2. Kesalahan yang selanjutnya yang dibuat oleh C.C. Berg ialah alam pikirannya
yang kolot yang selalu diliputi oleh prasangka, bahwa orang Indonesia, dalam
hal ini Prapanca, orang yang bodoh dan tidak bisa berpegangan kepada kebenaran.
3. Kesadaran yang meliputi alam pikiran Berg yaitu ketidakrelaan hatinya untuk
melihat Republik Indonesia tumbuh sebagai negara kesatuan (sikap tidak menyukai
persatuan Indonesia dibuktikan dengan pidato inaugurasinya yang berjudul”
Indie’s Talenweelde and Indie Taalproblemen”, 1939M).
Adapun, selanjutnya ialah tentang kritikan CC. Berg terhadap Prapanca serta
kritikan para ahli terhadap CC. Berg: Tuduhan yang dilemparkan kepada Prapanca
oleh C.C.Berg dimulai pada tahun 1951M (setelah terbentuknya NKRI), ketika ia
menulis karangannya yang berjudul ”De evolutie der Javaanse Geschiedschrijving”
(pertumbuhan penulisan sejarah Jawa).[3] Ia
mengatakan, bahwa Negarakertagama (buku karya Prapanca) pupuh 40-49 yang memuat
syair silsilah raja-raja Singosari-Majapahit itu sebagian tidak benar dan
dipalsukan oleh Prapanca, sehingga Rajasa atau Ken Arok, (raja pertama
Singosari) dan Anusapati (raja kedua Singosari) itu tidak pernah ada. Jadi
apabila nama kedua raja ini dimuat dalam silsilah seperti yang dimuat dalam
kitab Negarakertagama itu adalah akibat dari kecurangan Prapanca untuk
memasukkan nama raja tersebut. Menurut C.C. Berg usaha Prapanca untuk
menambahkan nama dua orang raja yang menurutnya itu tidak pernah hidup sebagai
tokoh sejarah, ialah sebagai akibat perkenalan Prapanca dengan seorang pendeta
tua yang menjaga suatu biara di Darbaru, seperti yang disebutkan dalam kitab
Negarakertagama Pupuh 35 Untuk memperkuat pendapatnya, sarjana ini menyusun
suatu hipotesa baru, bahwa Prapanca di Darbaru itu berkenalan dengan suatu
naskah yang menyebut adanya nama Rajasa dan Anusapati, sedangkan naskah ini
isinya hampir sama dengan kitab Pararaton,[4] disebut
dengan Proto Pararaton.
Kesimpulan yang diambil oleh C.C. Berg. Ialah 1.
Bahwa raja pertama Singosari itu bukan Rajasa melainkan Wisnuwardhana 2. Nama
Rajasa dan Anusapati dipalsukan dan disisipkan dalam silsilah Negarakertagama.
Teori C.C. Berg ini telah mendapat sanggahan dari J.L. Moens dan F.D.K. Bosch.
Sarjana yang disebut pertama itu berpendapat bahwa Rajasa dan Anusapati
merupakan manusia sejarah (historiche personen), karena namanya juga disebutkan
dalam suatu prasasti.[5]
Sehingga C.C. Berg. Yang sangat ceroboh dalam meneliti prasasti sebagai sumber
sejarah Indonesia kuno tersesat dan menyusun suatu teori yang telah salah pada
dasarnya. F.D.K.Bosch juga mengangah pendapat C.C. Berg. Khusunya
mengenai khayalannya tentang Proto Pararaton.[6] Yang
tidak diterima dari F.D.K Bosch ialah cara kerja C.C. Berg yang menyusun suatu
hipotesis adanya suatu kitab Proto Pararaton yang belum terbukti pernah ada.
Berdasarkan atas suatu kitab Proto Pararaton yang masih merupakan tanda Tanya
besar ini C.C. Berg mengajukan pendapat bahwa Prapanca melalui kitab ini telah
menyisipkan nama Rajasa dan Anusapati dalam silsilah raja-raja
Singosari-Majapahit. Setiap orang mengetahui bahwa jika nanti terbukti bahwa
hipotesis C.C. Berg ini tidak benar, segala buah pikirannya dan fitnahannya
terhadap Prapanca akan berantakan seperti rumah kartu.
C.C. Berg juga pernah menolak keberadaan Mpu Sindok
(Sri Isyana Wikramadharmatungga) karena dianggap sebagai tokoh rekaan dari raja
Airlangga. Walaupun Mpu Sindok banyak mengeluarkan berbagai prasasti (30 buah)
atas namanya. Menurut C.C. Berg, prasasti yang dikeluarkan Mpu Sindok terlalu
membosankan karena memiliki struktur (bentuk) yang sama. Prasasti yang dikeluarkan
oleh Mpu Sindok kebanyakan berisi anugrah raja kepada rakyatnya berupa Sima
Swatantra. C.C. Berg juga pernah berpendapat bahwa raja pertama Mataram adalah
Sultan Agung (Panembahan Hanyakrakusuma) jadi menolak keberadaan Panembahan
Senopati (Sutawijaya) dan Panembahan Hanyakrawati. Pendapat C.C. Berg itu
disanggah oleh De Graaf yang menyatakan bahwa Panembahan Senopati dan
Panembahan Hanyakrawati adalah tokoh sejarah karena dapat ditelusuri dari
sumber Portugise dan Belanda. Kebanyakan pendapat Berg itu selalu menolak
keberadaan tokoh pendiri dinasti/kerajaan.
Tuduhan kedua yang dilemparkan kepada pujangga Prapanca yang dikatakan
tidak dapat mempunyai pengertian ilmu bumi (geografi) ialah mengenai uraian
Prapanca tentang daerah-daerah di luar Jawa yang telah dipersatukan oleh
Majapahit yang disebutkan dalam Pupuh 13-15 dalam kitab Negarakertagama. Dari
Pupuh ini dapat diketahui bahwa sebagian besar dari daerah Indonesia yang
sekarang ini masuk dalam wilayah Republik Indonesia dan beberapa daerah yang
masuk wilayah Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Philipina itu dalam
lingkupan wilayah Majapahit. Keterangan Prapanca ini ditentang oleh C.C. Berg
yang mencoba untuk membuktikan bahwa kerajaan Majapahit yang menurut
Negarakertagama itu meliputi wilayah yang luas diperkecil menjadi hanya Jawa,
Madura dan Bali. Jelaslah, Majapahit menurut sarjana ini tidak pernah memiliki
wilayah yang kurang lebih sama dengan wilayah Republik Indonesia pada waktu
sekarang. Di dalam karangannya yang berjudul “De Geschiedenis van pril
Majapahit” (Sejarah awal Majapahit)[7] yang
kemudian akan dilanjutkan dalam karangannya yang lain yaitu “De Sadeng oorlog
en de myth van Groot Majapahit” (perang Sadeng dan mitos Majapahit Raya).
Sarjana ini membuktikan bahwa wilayah Majapahit yang meliputi seluruh Indonesia
seperti yang telah disebutkan Prapanca dalam Negarakertagama ini tidak betul:
dengan berpegangan pada sutau prasasti yang dikeluarkan atas perintah
Kertarajasawardhana (Maharaja pertama Majapahit) yang menyebut dirinya berkuasa
di daerah Nusantara yang terdiri dari 4 daerah (catur prakerti) yaitu Bangli
(Bali), Malayu (Sumatra), Madura dan Tanjungpura (Kalimantan). C.C. Berg
menafsirkan bahwa 4 daerah ini tidak berhubungan dengan pengrtian geografi,
melainkan berhubungan dengan filsafat agama Budha.[8] Dengan
berpegangan kepada ajaran filsaft agama Budha, bahwa seorang raja yang telah
diberi kedudukan sebagai seorang dewa Budha wajib memiliki 4 prakerti
(kesaktian). Empat daerah Nusantara tersebut menurut Berg hanya dianggap sebagi
cita-cita saja dari Majapahitdan tidak pernah masuk wilayah Majapahit.
Dalam usahanya untuk mentorpedir adanya kekuasaan Majapahit Raya, C.C. Berg mulai main kayu dengan jalan mengatakan bahwa
berita-berita mengenai daerah-daerah di Indonesia dan sekitarnya yang telah
dipersatukan dengan Majapahit itu hanyalah isapan jemol Prapanca belaka, karena
pujangga ini dikatakan tidak mengetahui tentang ilmu bumi (geografi) Indonesia.
Tuduhan ini disangkal oleh H.J. de Graaf pada tahun 1956M, ketika mengajukan
suatu prasaran dalam suatu kongres di Belanda yang berjudul “De historische
betrouwbaarheld der Javaanse overlevering” (Tentang kebenaran dalam sejarah
Jawa).[9]
Pendapat C.C. Berg mengenai ketidakmampuan Prapanca
untuk membedakan nama yang benar dan
nama yang tidak benar, pernah dilancarkan sebelumnya pada tahun 1953M, ketika
ia menulis karangan mengenai sejarah Indonesia kuno yang berjudul “Herkomst,
vorm en funtie der Middlejavaanse Rijksdelingstheorie”(Asal bentuk dan fungsi
teori pembagian kerajaan Arilangga). Sekalipun karangan ini tidak membicarkan
karangan Prapanca akan tetapi karena sarjana Berg menyinggung Negarakertagama
sebagai sumber sejarah, ia mengatakan bahwa Prapanca tidak dapat menyaring mana
yang sejarah dan mana yang mitos, sehingga pujangga Prapanca dianggap sebagai
ahli sejarah yang tidak mampu.[10] Karangan
tersebut pada dasarnya memperbincangkan tidak diterimanya keterangan Prapanca
yang mengatakan bahwa kerajaan Airlangga dipecah menjadi dua yaitu Jenggala dan
Kadiri, karena pembagian ini tidak tidak berdasarkan atas berita sejarah yang
sungguh terjadi dan hanya merupakan mitos kuno tentang terbaginya Jawa Timur
oleh Sungai Brantas menjadi dua bagian. Tentang pendapat ini saya tidak
keberatan untuk menerima, akan tetapi untuk mengatakan bahwa Prapanca sebagai
seorang penulis sejarah yang tidak ada harganya, pendapat yang demikian ini
saya menentangnya, sebab dalam taraf kemajuan pengetahuan pada abad ke-14M kita
tidak dapat mengharapkan dari Prapanca untuk bekerja menyamai seorang guru
besar pada waktu sekarang (abad ke-20M) dalam pekerjaannya dalam membuat suatu
penyelidikan ddengan dibantu oleh sekitar banyak asisten denganperpustakaan
yang serba lengkap. Pujangga Prapanca hanay mempunyai alat-alat dan bahan
penyelidikan yang serba terbatas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
CC. Berg
memiliki nama asli yaitu Cornelis Christian Berg yang lahir pada 7 Februari
1934 di Bandung, Indonesia. Berg pernah menjadi direktur Norwegia Arboretum dan
hari yang sama menjadi profesor botani di University of Bergen. Berg pun pernah
menjadi profesor emeritus di Bergen Museum. Dari 18 Desember, 2001 ia juga
bekerja di Universitas Leiden, di mana ia tinggal sampai kematiannya pada tahun
2012. Selama hidupnya ia diterbitkan 151 makalah pada spesies tanaman Moraceae.
Ketika C.C Berg menulis
karyanya yang berjudul ‘Sejarah Jawa’ buku tersebut khusus membicarakan
pengertian penulisan sejarah Jawa (Javaansche geschiedschrijving). C.C Berg
mencoba untuk memberi tafsiran baru tentang sejarah Indonesia kuno dengan jalan
mengalami alam pikiran zaman tersebut. Analisa yang dilakukan oleh CC. Berg
mengalami beberapa kegagalan.
CC. Berg pernah
melakukan studi kritik terhadap karya Prapanca yang berjudul Negarakertagama.
Namun berbeda CC. Berg yang melakukan kritik terhadap karya Prapanca. Para ahli
banyak yang melakukan studi kritik terhadap pemikiran CC. Berg sendiri,
diantaranya ialah J.L. Moens dan F.D.K. Bosch.
B. Saran
Semoga
dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan terutama bagi
unsur-unsur yang berkepentingan mengenai CC. Berg serta semoga kita dapat
meneliti sejarah secara profesional sesuai dengan tahapan dalam metode untuk
meneliti sejarah. aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Utama:
https://linstein.wordpress.com/tag/c-c-berg/ diakses pada hari Rabu tanggal 05 Oktober 2016 pada jam 20. 03
WIB.
Www.Wikipedia.com
Catatan Kaki:
"Cornelius (Kees) Christiaan Berg 1934-2012". Figweb. Retrieved August 2, 2013.
C.C.Berg, “Javaansche Geschiedschrijving,”dalam
F.W.Stapel (red.), Geschiedenis van Nederlandcsh Indie (Amsterdam: Joost van
den Vondel, 1938).Jilid 2.
C.C.Berg,”De evolutie
der Javaanse Gesscheidschrijving.” Meeleddelingen der Koninklijk Nederlandse
Akademie van Wetenschappen. Afd. Letterkunde.Nieuwe Reeks, Jilid 14, No. 2
(1951) hal.5 dan seterusnya.
J.Brandes, Pararaton (Ken Arok) of het boek der
koningen van Tumapel en van Majapahit (Batavia:Albrect en Rusche, 1896)
J.L.Moens,Wisnuwardhana, vorst van Singosari en zijn
Madjapahitse santanapratisantana,”TBG, Jilid 85 (1955).
F.D.K.Bosch,”C.C.Berg
and Ancient Javaancse History,”BKI Jilid 112 (1956).
C.C.Berg, “De geschiedenis van prii Majapahit,”
Indonesie, Th. 4 (1950-51).
C.C.Berg, “de Sadeng-oorlog en de mythe van Groot
Majapahit,” Indonesie, Th. 5 (1951-52).
H.J. de Graaf,”De historische betrouwbaarheid der
Javaanse geschiedshrrijjving,” BKI,Jilid 112 (1956).
C.C.Berg, Herkomst, vorm en funtie der Middlejavaanse
Rijksdelingstheorie,”Verhandeling der Koninklijke Nederlandse Akademie van
Wetenschappen. Afd. Letterkunde, Nieuwe Reeks, Jilid 59, No.1 (1953).
[1] "Cornelius
(Kees) Christiaan Berg 1934-2012". Figweb. Retrieved August
2, 2013.
[2] C.C.Berg, “Javaansche
Geschiedschrijving,”dalam F.W.Stapel (red.), Geschiedenis van Nederlandcsh
Indie (Amsterdam: Joost van den Vondel, 1938).Jilid 2 hal 11-148.
[3] C.C.Berg,”De evolutie
der Javaanse Gesscheidschrijving.” Meeleddelingen der Koninklijk Nederlandse
Akademie van Wetenschappen. Afd. Letterkunde.Nieuwe Reeks, Jilid 14, No. 2
(1951) hal.5 dan seterusnya.
[4] J.Brandes, Pararaton
(Ken Arok) of het boek der koningen van Tumapel en van Majapahit
(Batavia:Albrect en Rusche, 1896)
[5] J.L.Moens,Wisnuwardhana,
vorst van Singosari en zijn Madjapahitse santanapratisantana,”TBG, Jilid 85
(1955), hal. 394-397.
[6] F.D.K.Bosch,”C.C.Berg
and Ancient Javaancse History,”BKI Jilid 112 (1956), hal.1-24.
[7] C.C.Berg, “De
geschiedenis van prii Majapahit,” Indonesie, Th. 4 (1950-51), hal 481-520; dan
C.C.Berg, “de Sadeng-oorlog en de mythe van Groot Majapahit,” Indonesie, Th. 5
(1951-52), hal 385-422.
[8] Berg,”De gessvhiedenis
van prii Majaphit,” hal.494.
[9] H.J. de Graaf,”De
historische betrouwbaarheid der Javaanse geschiedshrrijjving,” BKI,Jilid 112
(1956), hal. 55-73.
[10] Berg,”Herkomst vorm en
funtie…,” hal.19.